Paket Haji Furoda dari Surabaya 2023

4 min read

Paket Haji Furoda dari Surabaya 2023

Paket Haji Furoda dari Surabaya 2023

Paket Haji Furoda dari Surabaya – Sebagai salah satu travel agen ibadah haji dan umroh terpercaya, Satutours menawarkan paket haji Furoda dari Surabaya 2023 dengan bermacam kelebihannya. Sahabat Satutours bisa menjalankan ibadah haji dengan lebih cepat tanpa perlu lama menunggu jadwal keberangkatan.

Paket Haji Furoda dari Surabaya 2023

Yang membedakan jalur haji Furoda dengan jalur haji reguler ataupun khusus lainnya hanyalah pada proses administratifnya. Pasalnya, ibadah haji dengan jalur visa haji furoda ini, Sahabat Satutours akan mendapatkan visa dengaan jalur undangan.

Sehingga bukan hanya tak perlu lama menunggu jadwal keberangkatan, tetapi Sahabat Satutours juga bisa mendapatkan layanan yang lebih istimewa. Tertarik untuk menggunakan jalur haji Furoda? Langsung saja klik alamat web Satutours di hhps://www.satutours.co.id sekarang juga.

Istilah dalam Rukun dan Wajib dalam Ibadah Haji yang harus Dipahami

Bagi jemaah haji yang sudah tiba di tanah suci, harusnya sudah memahami tentang rukun dan juga wajib haji dalam pelaksanaan ibadah haji ada akan akan dilakukan. Rukun haji merupakan sesuatu hal yang harus dikerjakan di pelaksanaan ibadah haji, apabila tak dikerjakan, maka ibadah hajinya menjadi tidak sah.

Sedangkan, wajib haji merupakan serangkaian kegiatan yang harus jamaah lakukan dalam proses ibadah haji untuk melengkapi rukun haji, dan apabila tak dikerjakan maka jemaah diharuskan membayar denda atau dam. Agar lebih paham apa saja  istilah-istilah dalam rukun dan wajib dalam ibadah haji dan umrah, simak ulasan berikut selengkapnya.

1. Ihram

Istilah Ihram diambil dari al-haraam yang memiliki makna semua hal yang dilarang atau tidak diperbolehkan. Kata ihram sendiri merupakan bentuk mashdar dari kata fi’il madhi serta mudhari’ dari: ahrama–yuhrimu-ihraman yang  memiliki makna “tercegah atau terlarang”. Sedangkan secara istilah,  kata ihram memiliki makna berniat memasuki ataupun menunaikan ibadah haji maupun umrah. Dan ketika memasuki wilayahnya berlaku sejumlah keharaman tertentu.

Seperti diantaranya dilarang mengucapkan kata atau melakukan perbuatan tertentu, misalnya jima’, menikah, mengucapkan perkataan kotor, dan sebagainya. Tak sah seseorang yang melakukan ihram terkecuali disertai niat. Pasalnya, Ihram pun juga memiliki makna berniat untuk mengawali pelaksanaan ibadah haji ataupun umrah.

2. Miqat

Jika diartikan secara harfiah, miqat memiliki makna batas ataupun garis diantara boleh dan tak boleh, atau perintah untuk memulai dan berhenti, yakni kapan waktu untuk melafadzkan niat ketika berihram. Miiqaat terbagi menjadi dua yakni; Miiqaat Makaani dan Miqat Zamaani.

Yang dimaksud dengan Miqat Makaani ialah tempat-tempat atau lokasi yang sudah ditentukan untuk melakukan ihram (haji ataupun umrah). Nama-nama untuk Miqat Makaani diantaranya untuk di kota Madinah ialah di Bir ‘Ali  (Huzdalifah), di Suria ialah Al Juhfa, di Najed ialah Qarn al Manaazil, di Iraq ialah Dzatu ‘Irq serta di Yaman ialah Yalamlam.

Sedangkan Miqat Zamani ialah bulan-bulan yang sudah ditentukan tidak diperbolehkan untuk berihram untuk beribadah haji terkecuali di beberapa bulan yang sudah ditentukan. Bulan-bulan  tersebut kerap disebut bulan haji yakni bulan Syawal, Dzulqaidah serta Dzulhijjah.

3. Sa’i

Berikutnya tentang Sa’I yang asal katanya berasal dari sa’aa, yas’aa (bermakna berjalan, bergegas) atau bisa juga diartikan As–Sa’yu yang bisa diartikan dengan masya yang maknanya berjalan. Bisa juga diartikan dengan qasahada yang maknanya menuju ke sebuah arah; atau bisa juga ‘amila yang memiliki makna melakukan sesuatu.

Sedangkan menurut istilah, Sa’i memiliki makna menempuh jarak yang membentang dari bukit Shafa dan juga Marwah. Perbuatan ini dilaksanakan setelah selesai melakukan ibadah thawaf, dan dilakukan dalam rangka kegiatan manasik haji ataupun umrah. Yakni berjalan dengan lebih cepat sebanyak tujuh kali bolak balik dimulai dari bukit Shafa lalu ke bukit Marwah kemudian berakhir di bukit Marwah. Ke dua bukit tersebut memiliki jarak sekitar 400 meter. Bisa dikatakan total jarak yang harus ditempuh pada saat melaksanakan Sa’I sekitar kurang lebih 2,8 km.

4. Shafa

Shafaa merupakan sebuah bukit yang enjadi bagian dari Syi’ar-syi’ar agama Allah, dan menjadi tempat awal untuk memulai rukun sa’i. Bukit Shafa merupakan tempat tinggi yang berada di dekat pintu menuju Masjidil haram yang dikenal dengan sebutan bab al-Shafa yang menjadi hidung atau ujung (anf), yang menjadi bagian jabal Abi Qubais.

5. Marwah

Marwah menjadi bukit kedua yang menjadi lokasi melakukan Sa’I atau mas’a (tempat untuk sa’i). nama Marwah memiliki makna batu besar dan keras ataupun batu karang. Sedangkan menurut pendapat Imam Nawawi, Marwah merupakan ujung dari sebuah gunung yang bernama Qu’aiqu’aan. Posisi bukit ini cukup rendah.

6. Mas’aa

Kata mas’aa merupakan isim makan (atau tempat) yang  memiliki makna; tempat untuk melakukan rukun haji yang disebut sa’i. yakni jalur dari bukit Shafâ dan juga bukit Marwah. Jalur Mas’aa yang sekarang ini diperlebar menimbulkan banyak keraguan. Apakah sa’i yang dilakukan sah apabila melewati area tersebut karena sudah mengalami perlebaran jalur?

7. Mabit

Mabit merupakan kata yang berasal dari baata sebagaimana dalam jumlah atau kalimat, yang memiliki makna: bermalam. Sedang kata al-mabit memiliki makna tempat untuk menetap ataupun bermalam, menginap ketika malam hari. Setelah matahari mulai tenggelam (disaat masuk maghrib) ketika hari Arafah pada 9 Dzulhijjah. Jema’ah haji kemudian meninggalkan lokasi Arafah untuk menuju ke Muzdalifah untuk melakukan Mabit (istirahat, berhenti, dan mengerjakan sholat Maghrib serta Isya’ dengan cara jama takhir), hingga melewati tengah malam di tanggal 10 Dzulhijjah.

8. Wuquf

Wukuf memiliki makna berhenti ataupun berdiam diri yang berasal dari kata waqafa-yaqufu-wuquufan. Sedangkan secara istilah, wuquf memiliki makna hadir dan juga berada di mana saja di kawasan Arafah, meskipun dalam kondisi tidur, sadar, sedang menaiki kendaraan, berbaring, duduk, ataupun berjalan, baik juga dilakukan dalam keadaan suci maupun tak suci (misalnya karena sedang haidh, nifas maupun junub).

Melakukan Wuquf di Arafah merupakan salah satu rukun haji yang sangat penting. Bisa dikatakan, siapa pun yang tidak melaksanakan wuquf di padang Arafah, maka ibadah haji yang dilakukan tidak sah. Durasi pelaksanaan Wuquf, menurut kesepakatan Ulama  (Ijma’), dihukumi sah untuk setiap jemaah yang berada di kawasan Arafah meski hanya sebentar asalkan berada dalam rentang waktu dimulai dari tergelincirnya matahari atau zawal syamsi ketika hari Arafah hingga terbit fajar ketika hari raya Idhul Adha atau qurban.

9. Thawaf

Secara bahasa thawaf memiliki makna berputar atau mengelilingi sesuatu. Sedang dalam hal ibadah haji ialah (seseorang) yang berputar untuk mengelilingi Ka’bah. Sedangkan secara istilah, thawaf memiliki makna sebuah tindakan mengelilingi bangunan Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran.

Hal ini dilakukan demi memberikan rasa hormat pada Baitullah Al Haram sekaligus menaati perintah Allah SWT, seperti yang ada dalam firman-Nya di Qur’an Surah Al-Hajj ayat 29 yang memiliki arti “Dan hendaklah kalian  thawaf di Baitul ‘atiq”. Dimana setiap putaran yang dilakukan dimulai dari arah Hajar Aswad atau sejajar dan bangunan Ka’bah yang berada di sebelah kiri kemudian berakhir di bagian Hajar Aswad atau sejajar dengannya.

10. Jumrah

Secara bahasa jumrah memiliki makna batu kecil atau kerikil. Bentuk jamak dari jumrah ialah Jamarat. Sedangkan dalam istilah, jumrah memiliki makna melempar ataupun melontar dengan menggunakan batu kecil atau kerikil yang diambil pada saat mabit.

Untuk sasaran jumrah (marma) berjumlah 3 macam yakni al-jumrah al-ulaa atau al-jumrat al-shughra atau disebut dengan jumrah kecil atau pertama, kemudian jumrah kedua yang disebut al-jumrat al-wustha, selanjutnya al jumrah al-‘aqabah yang juga disebut jumrah aqabah.

Hukum dalam melontar Jumrah Aqabah maupun melontar Jumrah di hari-hari Tasyriq ialah Wajib. jika tak dikerjakan atau terlupa maka jamaah diwajibkan untuk  membayar Dam.

11. Tahallul

Tahallul diartikan dengan terbebas atau terlepasnya seseorang dari semua larangan atau semua hal yang tidak diperbolehkan selama ihram. Misalnya saja seperti menggunakan parfum atau wewangian, melakukan jima’, melakukan pinangan ataupun pernikahan, dan lain sebagainya.

Para Ulama telah sepakat bahwa dalam proses pelaksanaan ibadah haji terdapat dua jenis tahallul yakni Tahalul Kecil atau asghar yakni tahalul pertama atau awal dan juga Tahallul besar atau akbar yakni tahallul kedua atau tsani.

Demikian tadi informasi tentang rukun dan wajib yang harus dilakukan ketika menjalankan ibadah haji. Jika Sahabat Satutours ingin melaksanakan ibadah haji, khususnya untuk jamaah dari Surabaya sangat disarankan untuk memilih paket Haji Furod dari Surabaya 2023.

Pasalnya, sahabat tak perlu berlama-lama menunggu antrian panjang untuk beribadah haji hingga belasan tahun bahkan puluhan tahun. cukup mendaftar di travel Haji Furoda bersama Satutours. Untuk detail lebih lanjut silakan kunjungi website satutours.co.id sekarang juga.

Paket Haji Furoda dari Surabaya


3 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *